SUMATERA BARAT - Bayi merah yang berusia dua hari menjadi salah satu korban tewas dalam bencana banjir di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar). Bayi tersebut dilahirkan di Puskesmas Pangkalan, wilayah terdampak banjir terparah di Sumbar.
Kepala Pusat Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menerangkan kejadian bermula saat bayi tersebut dimasukkan dalam inkubator pada Rabu, 1 Maret 2017. Saat masih dalam inkubator, tiba-tiba air deras masuk dan merendam Puskesmas Pangkalan.
"Sehingga bayi tidak dapat diselamatkan pada 2 Maret 2017. Saat kejadian, listrik padam karena banyak tiang listrik roboh terkena longsor," kata Sutopo, Minggu, 5 Maret 2017.
Baca : Fenomena Alam, Indonesia Bakal Hujan Lebat 7 Maret 2017
Selain bayi yang belum diberi nama itu, banjir Limapuluh Kota juga menyebabkan lima orang lainnya meninggal dunia. Empat di antaranya tertimbun longsor saat mengantre dalam kemacetan panjang di jalur lintas Riau - Sumbar. Keempatnya adalah Doni Fernandes (33), Teja (19), Yogi Saputra (23), dan Karudin (25).
Sedangkan, seorang lainnya yang hanyut karena banjir atas nama Muklis (45). Ada pula dua warga mengalami korban luka berat masing-masing bernama Syamsul Bahri (22) dan Candra (42). Meski begitu, masih ada keluarga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya dalam bencana banjir dan longsor di sana. Otoritas setempat menetapkan masa tanggap darurat berlaku hingga 9 Maret 2017.
Longsor tersebar pada sembilan titik di Kecamatan Pangkalan, sedangkan banjir tersebar pada tujuh kecamatan dengan titik banjir tertinggi mencapai 1,5 meter di Kecamatan Pangkalan
"Banjir disebabkan oleh meluapnya Sungai Batang Maek di Kecamatan Pangkalan, Sungai Batang Kapur di Kecamatan Kapur IX, Sungai Batang Sinamar di Lareh Sago Halaban, dan Sungai Batang Harau di Kecamatan Harau," kata Sutopo.
Hingga saat ini, akses jalan nasional yang menghubungkan Sumbar–Riau putus dan belum dapat dilalui akibat longsor. Sebagian material longsor sudah dibersihkan dengan mengerahkan alat berat. Namun, ada ruas jalan yang longsor dan ambles, sehingga perlu diperbaiki.
Baca juga : Anak Tewas, Polisi Periksa Orangtua Korban
Kondisi listrik belum semuanya pulih. Longsor menyebabkan beberapa instalasi milik PLN rusak. Akibatnya, 117 gardu listrik terpaksa dipadamkan dan 14.657 pelanggan PLN tak teraliri listrik.
Perbaikan jaringan listrik terkendala jalan yang rusak dan tertimbun longsor. PLN Wilayah Sumbar saat ini terus berupaya untuk memperbaiki jaringan listrik yang terputus itu.
BNPB terus mendampingi BPBD dalam penanganan darurat. Kepala BNPB, Deputi Penanganan Darurat BNPB dan personil Tim Reaksi Cepat telah berada di lokasi bencana. Koordinasi dengan Bupati Kabupaten Limapuluh Kota dan unsur lainnya dilakukan.
BNPB menyerahkan bantuan Rp 500 juta dana siap pakai untuk operasional penanganan darurat kepada BPBD Kabupaten Limapuluh Kota. BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, Tagana, PMI, SKPD, relawan dan masyarakat melakukan penanganan darurat.
Bantuan terus dikirim ke lokasi bencana. Sebagian besar masyarakat telah kembali ke rumah masing-masing membersihkan rumah karena banjir sudah surut. Kebutuhan mendesak saat ini adalah alat berat, mobil tanki air, makanan siap saji, makanan, air bersih, peralatan rumah untuk membersihkan lumpur, dan obat-obatan.
Baca juga : Ayah Memperkosa Putrinya Karena Lesbian
Sumber : Liputan6
Bayi Tewas Dalam Banjir Kota Sumatera Barat
4/
5
Oleh
Unknown
