LAMPUNG - Muhammad Karim Amrullah (20), mahasiswa Penjaskesrek Universitas Lampung (Unila) yang aktif sebagai Ketua Pengurus Bagian Pelaksana Harian (BPH) Masjid Al Wasii meninggal dunia setelah tiga hari mengalami koma di Rumah Sakit Abdul Moeloek.
Karim diduga menjadi korban tabrak lari di Pekon Bulakerto, Kabupaten Pringsewu, Kamis (23/3) malam. Hingga kini, penabraknya belum ditemukan. Kepergian Karim ke pangkuan Ilahi meninggalkan kesedihan bagi keluarga, rekan, dan dosennya.
Baca : Nenek 94 Tahun Menolak Pensiun Untuk Tetap Jadi Pelayan McDonald's
Sebelum meninggal dunia, Karim banyak meninggalkan pesan dan kesan kepada teman pengurus Masjid Al Wasii. Di mata sahabat, korban dikenal sebagai orang yang ramah, terbuka, dan mudah bergaul. Rekan Karim, Hengky Yoga (18) mengungkapkan, beberapa hari sebelum kejadian, Karim sempat menitipkan amanah kepadanya untuk merawat Jam Datuk (jam besar berdiri) milik Masjid Al Wasii.
"Seumpama saya (Karim) nggak ada, kamu yang setting jam masjid," katanya menirukan pesan korban, Senin (27/3).
Hengky mengatakan, Karim pun sempat mengajarinya men-setting Jam Datuk tersebut. "Saya nggak mengira kalau itu amanah terakhirnya. Saya pikir, beliau (korban) nggak adanya mungkin lagi ada urusan atau kuliah," ujarnya.
Sulton Jasmi, dosen Karim mengatakan, menurut temannya, kepulangan korban ke Pringsewu untuk mengambil berkas sebagai syarat beasiswa prestasi (PPA). Korban merupakan warga Gunung Kancil, Kecamatan Fajaresuk, Kabupaten Pringsewu. Ketua Masjid Al Wasii ini mengaku sempat kaget setelah mendapat kabar pada pagi harinya.
Baca Juga : Seorang ABG Digilir Dan Diperkosa Oleh Lima Pemuda di Semak-Semak
"Saya sempat kaget. Setahu saya dia pamit pulang. Saya pikir pulangnya ke ruang BPH bawah masjid ini," ujarnya saat ditemui di ruang sekretariat Masjid Al Wasii.
Dosen Jurusan Ilmu Pendidikan ini mengaku memiliki kenangan terakhir dengan korban.
"Terakhir dia berpamitan dan mencium tangan saya, masih terngiang seyumnya itu, dan tidak terbayang secepat ini dipanggil (Allah SWT)," ujarnya.
Sulton menuturkan, Karim tercatat sebagai mahasiswa semester empat angkatan 2015 program studi Pendidikan Jasmani (Penjas) FKIP Unila. Selain itu, korban merupakan mahasiswa yang berprestasi. "IPK terakhir itu 3,8, itu sangat luar biasa," jelas pelatih Judo ini.
Sulton pun merasa kehilangan korban yang diharapkan sebagai penerus untuk merawat dan mengurusi Masjid Al Wasii.
"Selain itu, Karim seharusnya dipersiapkan sebagai atlet judo untuk event kejuaraan mahasiswa," lanjutnya.
Sahabat sekamar korban, Abdul Aziz (23) juga kaget dengan keadaan korban saat dirawat di RSUAM.
"Kami kaget keadaannya sudah parah, kepala pendarahan dan kedua tangan patah, itupun dia (korban) dalam keadaan koma," jelasnya.
Baca Juga : Tragis!!! Balita Tewas Setelah Diduga Dianiaya Ayah Tiri
Aziz mendapat kabar pertama kali melalui ponsel pada Jumat (24/3) dini hari.
"Saya baru buka SMS yang dikirm oleh kakaknya saat menjelang subuh. Dia (Karim) sudah di RSUAM, karena RS di Pringsewu sudah tidak mampu menanganinya," ungkapnya.
Mahasiswa tingkat akhir ini menuturkan, kepergian Karim sempat dilarang karena sudah terlalu larut malam.
"Sempat kami larang, karena takut ada begal," jelasnya. Menurut Aziz, beberapa menit sebelum kejadian, korban sempat mengirimkan foto tugu bambu Pringsewu ke grup WA BPH Masjid Al Wasii.
"Jaraknya sekitar 10 menit ke lokasi kecelakaan, dan sempat menulis chat `izin pulang ambil berkas beasiswa'," sebut mahasiswa PGSD ini.
Aziz mengatakan, Karim adalah seorang tilawah yang handal.
"Dia mendapat kepercayaan sebagai muazin dan sering diundang sebagai tilawah. Suaranya memang bagus, bahkan kita punya rekamannya saat mengaji," tuturnya.
Selain itu Aziz mengungkapkan bahwa Karim juga didaulat sebagai ketua kerohanian Jurusan Ilmu Pendidikan Unila.
"Menurut keluarganya, Karim itu sosok yang displin dan nggak neko-neko," tandas Aziz.
Baca : Mahasiswa Ini Diciduk Gara-Gara Bawa Sabu 1 Kg Dan 8.000 Ekstasi
Sumber : Tribun Lampung
Tragis, Mahasiswa Pengurus Masjid Al Wasii Unila Meninggal di Jalan
4/
5
Oleh
Unknown
