Thursday, April 13, 2017

Ditolak Warga Sulawesi Selatan, Polisi Larang Tablig Akbar Hizbut Tahrir


SULAWESI - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan melarang rencana penyelenggaraan tablig akbar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Lapangan Karebosi, Makassar.

Ditolak Warga Sulawesi Selatan, Polisi Larang Tablig Akbar Hizbut Tahrir

Direktur Intelkam Polda Sulsel Komisaris Besar Tjatur Abrianto mengungkapkan, pelarangan itu lantaran rencana aksi HTI tersebut mendapat tentangan dari organisasi-organisasi massa lain.
Baca : Gedor Warung Tuak, Pria Ini Jadi Tersangka Kasus Asusila

"Selain itu juga, belum adanya rekomendasi dari Badan Kesatuan Bangsa (Kesbang) dan Departemen Agama serta instansi terkait lainnya," terang Tjatur, Kamis (13/4).

Sebelumnya, pengurus DPD HTI Sulsel mengajukan surat izin Masirah Panji Rasulullah SAW dengan tema “Khilafah, kewajiban Syari, Jalan Kebangkitan Umat.”

Kegiatan itu akan dirangkaikan dengan pawai kendaraan di jalan lintas kabupaten kota dengan jumlah peserta lima puluh ribu orang. Sementara sejumlah Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor dari 14 PC menolak keras kegiatan tablig akbar HTI itu.

Mereka kemudian melayangkan surat resmi penolakan ke Polda Sulsel, Kamis hari ini, sebagai bahan pertimbangan polisi. Mereka menilai kegiatan itu menyebarkan paham anti-Pancasila.

Keempatbelas cabang GP Ansor itu dari Kabupaten Enrekang, Bulukumba, Parepare, Luwu Utara, Wajo, Luwu Timur, Sinjai, Pinrang,Bantaeng, Palopo, Barru, Bone dan Jeneponto.

Ketua GP Ansor Sulsel Muhammad Tonang menyatakan  konsisten menolak kelompok-kelompok yang akan menyebarkan paham dan ideologi selain Pancasila.
Baca Juga : Penggunaan Tato Mainan Pada Anak Dapat Memicu Ruam Merah Disekitarnya

"Organisasi ini jelas mengusung khilafah dalam bernegara, tentu saja bertentangan dengan ideologi NKRI kita yang selama ini diperjuangkan para pahlawan dan ulama-ulama pendahulu kita," tegas Ronang.

Penolakan serupa disampaikan sejumlah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Metro Makassar dengan mengelar unjukrasa di kantor DPRD Sulsel. Anggota DPRD Sulsel Pangeran Rahim saat menerima aspirasi menyatakan akan menyampaikan aspirasi itu ke pimpinan DPRD.
Baca Juga : Perubahan Gigi Kelinci Bocah Ini Bikin Melongo

Sumber : Suara.com

Wednesday, April 12, 2017

Gedor Warung Tuak, Pria Ini Jadi Tersangka Kasus Asusila


SUMATERA UTARA - Pria bernama Indra Lesmana di Sunggal, Sumatera Utara, ditetapkan sebagai tersangka kasus asusila. Pasalnya, pria yang dipanggil Teyen dan tidak punya pekerjaan tetap ini memaksa seorang perempuan untuk berhubungan intim dengannya.

Gedor Warung Tuak, Pria Ini Jadi Tersangka Kasus Asusila

"Saat menenggak tuak, pelaku ini mengajak korbannya berhubungan badan. Namun, korban menolak dengan mengatakan, dirinya bukan wanita murahan," kata Panit Reskrim Polsekta Sunggal, Ipda Martua Manik, Selasa (11/4/2017).
Baca : Mobil Hitam Ini Nyemplung ke Kali Emerald, Gara-Gara HP

Peristiwa itu bermula saat ia menenggak tuak, di sebuah warung di Jalan Medan-Binjai KM 13, Gang Horas, Desa Puji Mulyo, Kecamatan Sunggal, Senin (10/4/2017). Jelang tengah malam, pemilik warung bermaksud menutup warung tuaknya.

Kebetulan, perempuan bernama Fitriani (31) tinggal di warung tempat usahanya itu. Menurut penjelasan Ipda Martua Manik, saat warung sudah tutup, pelaku yang diketahui bernama Indra Lesmana, tiba-tiba menggedor pintu warung, dan menjolok korban menggunakan kayu.

"Saat warung sudah tutup, pelaku ini teriak-teriak menggedor pintu warung. Lalu, ia menjolok kepala korban dengan kayu," kata Manik.

Perbuatan Indra dianggap meresahkan. Sehingga, pemilik warung keluar dan meminta INdra  pergi. Namun nahas, Indra justru mengajak pemilik warung berhubungan intim.

"Akibat perbuatan pelaku, kepala korban luka-luka dijolok kayu. Sekarang, pelaku sudah kami tahan," ungkap Manik.
Baca Juga : Begal Berjimat ini Tersungkur Saat Ditembak Polisi

Sumber : Tribun Lampung

Mobil Hitam Ini Nyemplung ke Kali Emerald, Gara-Gara HP


BANTEN - Mobil Avanza hitam bernomor polisi B1998 WFR terjun bebas ke dalam parit, di Jalan Raya Emerald Bintaro, Kelurahan Parigi Lama, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan,
Banten.

Mobil Hitam Ini Nyemplung ke Kali Emerald, Gara-Gara HP

Peristiwa tersebut terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah Bintaro. Sejumlah pengguna jalan yang melintas di lokasi kejadian sempat berhenti mengabadikan mobil nahas yang dikendarai Siti Hawa (35), warga Villa Jombang Baru.
Baca : Gadis Ditemukan Setengah Telanjang Saat Dicabuli Tujuh Pria

"Mobil melintas dari Jalan Raya Boulevard Bintaro menuju Emerald Bintaro," kata Kanit Laka Lantas Polres Tangerang Selatan Bripda Wahyu di Tangsel.

Dia menambahkan, peristiwa terjadi saat Siti Hawa yang membawa suami dan dua orang anak mereka melintas di lokasi. Tiba-tiba, salah seorang anak korban yang duduk di bangku belakang meminta telepon kepada ibunya yang sedang nyetir.

"Saat itu anaknya yang duduk di baris kedua mobil meminta handphone kepada ibunya yang sedang nyetir. Siti Hawa kemudian memberikan handphone sambil menoleh ke belakang," ungkapnya.

Saat Siti Hawa kembali melihat ke depan, posisi mobil sudah berada di pinggir kali. Korban yang panik ingin menginjak rem mobil, ternyata malah menginjak gas yang langsung nyelonong ke kali.

"Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Korban, suami dan anak-anaknya hanya syok. Mobil mengalami kerusakan di ban depan dan bemper depan," terangnya.

Kecelakaan tunggal yang menyebabkan mobil nyemplung ke dalam kali di wilayah ini bukan kali ini terjadi. Para pengemudi yang melintasi kawasan ini, diharapkan lebih hati-hati dalam melintas.
Baca Juga : Perubahan Gigi Kelinci Bocah Ini Bikin Melongo

Sumber : Sindonews.com

Gadis Ditemukan Setengah Telanjang Saat Dicabuli Tujuh Pria


BOGOR - Seorang gadis remaja di Kota Bogor kembali menjadi korban pencabulan. Gadis yang belum diketahui identitasnya itu telah mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari sekelompok orang.

Gadis Ditemukan Setengah Telanjang Saat Dicabuli Tujuh Pria

Tidak tanggung-tanggung, gadis yang disinyalir berusia sekitar 15 tahun itu diduga telah dicabuli oleh tujuh orang laki-laki secara bergilir. Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Condro Sasongko menuturkan.
Baca : Novel Baswedan di Teror Air Keras Selepas Subuh

Ketika itu korban ditemukan di bantaran Sungai Pakancilan, Kampung Sukajadi, Kelurahan Bondongan, kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor oleh seorang warga setempat.

"Korban ditemukan dalam keadaan tidak sadar memakai kaos warna hitam dalam keadaan tersingkap sampai leher," paparnya.

Lebih jauh Condro menjelaskan, korban sempat dicekoki minuman keras oleh pelaku sebelum dicabuli.

"Korban diajak pergi oleh FH dan HA ke bantaran Sungai Pakancilan, setelah itu korban diberikan minuman keras jenis ciu hingga mabuk dan tidak sadarkan diri," ungkap Condro.

Saat korban sudah tidak sadarkan diri, korban mulai dicabuli oleh empat orang pelaku, setelah itu korban kembali dicabuli oleh tiga pelaku lainnya.

"Korban terlebih dahulu dicabuli oleh FH, RN, AR, FS, warga Sukajadi, Bogor Selatan, kemudian korban kembali dicabuli oleh AM, HA, dan AP," jelasnya

Hingga saat ini, korban masih dirawat di RS Bhayangkara dan belum diketahui identitas serta alamat korban.

"Sementara tujuh pelaku masih dalam proses pemeriksaan, begitu pun dengan saksi-saksi masih kami mintai keterangan," pungkasnya.
Baca Juga : Netizen Penasaran Dengan Kisah Pemuda Tak Tahu Pacarnya Waria

Sumber : Tribun Lampung

Novel Baswedan di Teror Air Keras Selepas Subuh


JAKARTA - Selasa subuh, 11 April 2017, seperti biasanya Novel Baswedan menunaikan salat subuh berjamaah di Masjid Al Ihsan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.

Novel Baswedan di  Teror Air Keras Selepas Subuh

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini diketahui memang selalu melaksanakan ibadah salat subuh di masjid ini. Bahkan, ketika namanya mulai heboh diberitakan, seperti pada kasus dugaan penganiayaan pelaku pencurian sarang burung walet yang menyeret namanya, Novel tetap melakukan salat subuh berjamaah.
Baca : Paman Sering Nonton Tv di Rumahnya, Bocah Ini Hamil

Namun, usai melaksanakan salat subuh pagi itu, teror tiba-tiba datang. Novel yang tengah berjalan kaki menuju rumahnya diserang sosok tak dikenal. Dua orang yang diduga pria, dengan menumpang sebuah sepeda motor, langsung mendekat dan menyiram cairan ke wajah Novel.

Cairan yang belakangan diketahui adalah air keras tersebut langsung membuat Novel kesakitan. Pandangan kabur. Sementara pelaku langsung melarikan diri meninggalkan Novel yang kesakitan dan berusaha berteriak minta tolong.

Teriakan Novel pun didengar oleh jemaah yang masih berzikir di masjid.

"Kejadian usai salat subuh kita zikir, tapi Pak Novel pulang sebelum zikir berakhir," kata Ketua RT 03 RW 10 Pegangsaan II, Kelapa Gading Wisnu Broto, Selasa (11/4/2017).

Menurut dia, jemaah sadar ada yang tidak beres ketika mendengar teriakan Novel.

"Tiba-tiba kita di masjid dengar orang kesakitan, 'Tolong... tolong... Aduh panas!' Jemaah kita saling pandang, ada yang teriak, ternyata Pak Novel, lalu satu masjid keluar semua," ujar Wisnu.

Polisi berjaga di tempat Penyidik KPK Novel Baswedan diserang oleh orang tak dikenal, Jakarta, Selasa (11/4). Setelah insiden penyerangan tersebut, Kapolri perintahkan Rumah Novel Baswedan dijaga. Dia melihat Novel Baswedan lari ke arah keran air wudu. Tapi, lanjut dia, Novel sempat menabrak pohon. Akibatnya, dahinya benjol.

"Pak Novel mengucurkan air wudu ke muka semua. Lalu saya bersama jamaah bawa ke masjid," ucap Wisnu.

Warga yang kemudian menyisir lokasi kejadian menemukan jejak-jejak pelaku saat melancarkan kejahatannya.

"Di TKP saya lihat-lihat sendal Pak Novel dan cangkir yang diduga buat siram air keras," ujar Wisnu.
Baca Juga : Hadiri Undangan Pernikahan Mantan Kekasih, di Pintu Masuk Malah Ada Tulisan Seperti Ini

Selain itu, terlihat bercak air keras yang disiramkan ke wajah Novel Baswedan masih membekas jelas di tempat kejadian. Bercak tersebut sampai membuat warna aspal memutih di lokasi kejadian yang hanya berjarak dua rumah dari kediaman Novel Baswedan.

Sementara, polisi yang tak lama kemudian tiba di lokasi kejadian juga langsung memeriksa sejumlah saksi dan menelusuri lokasi kejadian.

"Dari keterangan korban dan saksi, tersangka diduga ada dua orang dengan menggunakan motor matic jenis bebek," ujar Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Dwiyono di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Namun, ciri-ciri para pelaku belum diketahui persis lantaran keduanya langsung melarikan diri usai menyiram air keras ke Novel.

"Usai melakukan, tersangka langsung melarikan diri menggunakan motor yang dipakai," ujar dia.

Kabar tentang teror yang menimpa Novel Baswedan dengan cepat menyebar. Tak kurang dari Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan yang langsung mendatangi RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, tempat Novel dirawat.

Berdasarkan hasil pembicaraan dengan penyidik kasus e-KTP ini, Iriawan mengatakan Novel sempat curiga ada seseorang yang mengikuti dia dalam beberapa hari sebelum kasus penyiraman air keras ini.

"Nah, dia sadar dan beberapa hari memang ada kecurigaan, tapi beliau katakan ya sudah tidak masalah (tanpa pengawalan)," jelas Iriawan.

Oleh karena itu, Iriawan menambahkan, pihaknya terus mendalami saksi-saksi untuk mempercepat meringkus pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan.

"Kami turut melakukan pendalaman dari saksi yang ada, termasuk yang tadi pagi, marbut masjid, kemudian tetangga beliau. Mudah-mudahan ya, bisa terungkap secepatnya," tutup Iriawan.

Keterangan yang disampaikan Iriawan sama dengan apa yang diceritakan adik Novel, Taufik Baswedan.

Kepada sang adik, Novel mengaku ada yang membuntutinya sebulan belakangan ini. Namun saat itu Novel mengaku tidak ambil pusing soal pria misterius yang memperhatikan gerak-geriknya. Lantaran ia mengaku sadar atas profesinya sebagai penyidik KPK memiliki risiko.

"Udah sebulan ini, Novel cerita ya kalau ada yang mengikuti. Ada kadang seorang, kadang dua orang naik motor," kata Taufik Baswedan.

Ia melanjutkan, Novel pun berusaha kembali memperhatikan orang yang diduga membuntuti dirinya itu. Namun, seringkali orang tersebut selalu menghindar dan langsung pergi.

"Dia langsung pergi kalau diperhatikan balik sama Novel," kata dia.

Tak hanya di jalan, Novel juga mengungkapkan, pria misterius itu seringkali berada di kawasan Masjid Al Ikhsan di dekat kediamannya.
Baca : Tukang Cincau Ini Dibayar Dengan Uang Mainan

"Novel beberapa hari belakangan ini juga sudah memperhatikan ada orang nongkrong di masjid tapi tidak ikut salat, padahal sudah masuk waktu salat. Pas azan subuh kata Novel Baswedan biasanya," tutur dia.

Sementara itu, Novel sendiri mengaku kesulitan melihat akibat luka bakar di wajahnya. Hal itu disampaikan Juru Bicara Presiden Johan Budi, usai menjenguk Novel di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

"Tadi saya sempat lihat dan berbincang dengan Novel. Jadi sebelah kanan wajahnya luka-luka agak lebam gitu. Kedua matanya kena tapi belum pemeriksaan mendalam. Dia mengaku pandangannya agak kabur di mata sebelah kiri. Lagi diperiksa oleh dokter," tutur Johan.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengecam keras aksi penyiraman air keras yang ditujukan pada Novel Baswedan. Presiden menyebut tindakan penyerangan ini sangat brutal.

"Ya itu tindakan yang brutal," ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Jokowi ingin kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan segera diungkap. Sebab, mantan Gubernur DKI Jakarta itu tak mau kejadian serupa menimpa penyidik lainnya.

"Saya kira hal itu tidak boleh terulang," tandas Jokowi.

Namun demikian, Jokowi meminta para penyidik KPK tidak patah arang dalam mengusut kasus korupsi.

"Tetap semangat bekerja," kata Jokowi.

Jokowi juga tetap meminta para penyidik KPK untuk tetap waspada. Sebab, kata dia, kewaspadaan juga tak kalah penting dalam menjalankan tugas.

"Semua penyidik harus waspada," ujar dia.

Tanggapan keras juga datang dari mantan Ketua KPK Abraham Samad yang datang menjenguk Novel Baswedan. Abraham menilai penyiraman Novel dengan air keras itu merupakan tindakan biadab demi membungkam penyidik kasus e-KTP tersebut.

"Ini adalah cara yang biadab. Cara yang ingin membungkam orang yang ingin menegakkan kebenaran. Cara-cara yang ingin membungkam orang yang ingin berantas korupsi di Indonesia," tutur Abraham Samad di Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga, Jakarta Utara.

Bagi Samad, tindakan itu tidak jauh beda dengan upaya kriminalisasi. Dia berharap pemerintah dapat tanggap menyelesaikan persoalan yang menimpa Novel Baswedan tersebut.

"Saya minta negara dan seluruh aparat harus bisa lindungi segenap warga negara yang bisa sedang memperjuangan negara. Tidak boleh lepas tangan begitu saja karena teman-teman kita seperti Novel dan lainnya, sedang melakukan tugas yang diemban oleh negara," jelas dia.

"Negara pasti punya konsep terhadap warga yang sedang memperjuangan negaranya sendiri," pungkas Abraham Samad.

Sementara itu, mantan Pimpinan KPK Bambang Widjojanto mendatangi gedung KPK sebagai betuk dukungan atas kejadian yang menimpa salah satu penyidiknya.

"Kehadiran saya ke sini bagian apresiasi dan dukungan. Kita adalah Novel Baswedan. Saya, kita, kamu, kalian adalah Novel Baswedan. Tugas kita adalah melawan segala bentuk teror dari para teroris yang merupakan koruptor dan ini adalah serangan balik yang luar biasa," ujar Bambang.

Kejadian yang menimpa Novel Baswedan, ia menjelaskan, merupakan salah satu bentuk terrorizing dan pelakunya adalah teroris. Sebab, tindakan yang dilakukan pelaku telah di luar batas.

"Kejadian seperti ini harus dituntaskan. Kalau tidak pernah berhasil dituntaskan maka tidak pernah berakhir. Ini akan terus menerus terjadi. Kalau tidak segera dituntaskan itu artinya upaya pemberantasan korupsi tengah ditikam ulu hatinya," ujar Bambang.

Tindakan seperti ini, menurut dia telah mempersoalkan keinginan Presiden Jokowi dalam mewujudkan program Nawacita. Untuk itu, dia meminya agar negara juga memberikan jaminan keamanan kepada pihak-pihak yang sedang menjalankan tugas serius, seperti Novel Baswedan yang merupakan penyidik otentik KPK.
Baca Juga : Begitu Romantis, Korban Bom Boston Ini Akan Nikahi PMK Penyelamatnya

"Ini suatu kejahatan yang langsung mempersoalkan keinginan pak Jokowi mewujudkan Nawacita. Salah satunya adalah bahwa negara tidak ingin absen. Ini dapat dijadikan gagal dalam memberikan jaminan securitas kepada pihak-pihak yang sedang menjalankan tugas," tegas Bambang.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersuara keras atas teror yang diarahkan kepada Novel Baswedan. Presiden mengutuk keras aksi penyiraman air keras itu dan menilai tindakan ini merupakan murni kriminal.

Setelah mendengar kabar itu, Jokowi langsung memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengusut tuntas kasus ini dn menangkap pelakunya.

"Saya perintahkan kepada Kapolri untuk dicari siapa (pelakunya)," tegas Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Jokowi tidak mau berkomentar banyak soal kasus ini. Dia juga tidak mau berandai-andai peristiwa ini merupakan bagian dari pelemahan KPK.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai, penyiraman air keras kepada Novel murni aksi kriminal. Karena itu, Polri harus segera menuntaskan kasus ini.

"Ini kriminal. Ini tugas Kapolri untuk mencari (pelakunya)," ujar dia.

Jokowi menyatakan, orang seperti Novel tidak boleh mendapat perlakuan tak beradab seperti ini.

"Jangan sampai orang-orang yang punya prinsip teguh seperti itu dilukai dengan cara-cara yang tak beradab," ujar Jokowi.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian langsung menindak lanjuti perintah itu. Dia membentuk tim khusus untuk mengusut kasus penyerangan Novel Baswedan. Satgas itu diharapkan dapat menangkap pelaku dan menguak motif di balik tindakan brutal itu.

"Kita sudah bentuk tim khusus gabungan dari Polres, Polda, dan Mabes, berusaha maksimal untuk ungkap," tutur Tito usai menjenguk Novel di Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga, Jakarta Utara.

Adapun untuk pengamanan para penyidik KPK yang lainnya, Tito mengaku masih membicaraknnya dengan pihak yang bersangkutan. Jika memang diminta, Polri tidak segan untuk membantu.

"Akan koordinasi dengan ketua KPK. Memang sebaiknya dikawal, tapi semua saya serahkan kepada ketua KPK. Kalau ketua KPK meminta pengawalan, kita akan lakukan semua. Saya serahkan dan saya hanya tawaran," jelas dia.

Teror terhadap Novel juga mengundang reaksi dari seluruh pegawai KPK yang tergabung dalam Wadah Pegawai KPK. Ketua I Wadah Pegawai KPK Hery Nurudin menyampaikan rasa duka para pegawai KPK atas tindak kekerasan yang diterima Ketua Wadah Pegawai KPK itu.

Hery menyebut tindakan ini merupakan upaya pelemahan KPK dalam memberantas korupsi di Tanah Air. Puluhan aktivis gerakan anti korupsi menggelar aksi di gedung KPK, Jakarta (11/4). Mereka menggelar aksi sambil membawa poster Novel Baswedan dan mengutuk pelaku penyerangan terhadap novel.

"Kami mengutuk keras perbuatan biadab tersebut sebagai bentuk dari teror dan bagian dari upaya pelemahan KPK dan perlawanan balik terhadap pemberantasan korupsi," ujar Hery dalam keterangan resmi Wadah Pegawai KPK.
Baca Juga : Wanita Cantik Ini Mengaku Bawa Bom di Bandara I Gusti Ngurah Rai

Dia mengatakan, tindak teror ini bukanlah yang pertama dialami Novel Baswedan. Para penyidik dalam kasus e-KTP itu pernah mengalami sejumlah teror.

"Peristiwa ini bukanlah peristiwa pertama kali kepada Novel Baswedan, melainkan peristiwa berulang yang pernah dilakukan terhadap Beliau, mulai dari intimidasi, tabrak lari sampai dengan peristiwa hari ini, penyiraman air keras," papar dia.

Meski begitu, Hery menegaskan tindak kekerasan yang dialami Novel Baswedan ini tidak akan membuat para pegawai KPK lain takut dalam menjalankan tugas.

"Kami tegaskan bahwa selangkah pun kami tidak akan mundur, apa pun risikonya, karena kami yakin perjuangan pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti dengan ancaman, intimidasi, maupun serangan apapun juga," tegas Hery.

"Novel adalah kami dan kami adalah KPK yang tidak akan pernah berhenti untuk berjuang melawan korupsi. Kami Novel dan Kami Tidak Takut," tegas dia.
Baca Juga : Pria Ini Dapat Umrah Gratis Dari Ketua MPR

 Sumber : Liputan6