Showing posts with label kejahatan. Show all posts
Showing posts with label kejahatan. Show all posts

Thursday, April 13, 2017

Siswi SMA Tepergok Setengah Bugil Dengan Seorang Anggota DPRD di Dalam Mobil


KALIMANTAN - Anggota dewan Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, berinisial, GR, akhirnya ditahan di rutan Polres HSS terkait dengan kasus asusila yang diperbuatnya.

Siswi SMA Tepergok Setengah Bugil Dengan Seorang Anggota DPRD di Dalam Mobil

Pria yang juga sebagai ketua komisi II DPRD HSS ini diketahui melakukan tindak asusila dengan pasangan di bawah umur. Berdasarkan sumber Bpost Online, pasangan dengan inisial I masih berstatus pelajar di salah satu sekolah menengah atas di HSS.
Baca : 3 Pria Ini Bawa Kabur Rp 2 Juta dari Meja Kasir Saat Pura-Pura Beli Minum

Saat kejadian, kedua tertangkap tangan oleh warga dalam kondisi setengah bugil. Melihat kejadian itu, warga sempat geram dan mau melakukan main hakim sendiri. Beruntung anggota Polsek Kandangan Kota cepat datang ke lokasi kejadian dan mengamankan keduanya.

Kepala Polres Hulu Sungai Selatan (Kapolres HSS) AKBP Sukendar Eka Ristyan Putra Sik dihubungi Rabu, (12/4) malam mengatakan bahwa GR sudah ditahan di rutan Polres HSS.

"Statusnya sudah ditingkatkan dari proses penyelidikan menjadi proses penyidikan," katanya.

Dikatakannya, penetapan status itu karena GR sudah melanggar undang-undang perlindungan anak. Mengingat pasangannya berbuat asusila masih di bawah umur. Pihak keluarga dari pasangan GR tidak terima dan merasa dipermalukan sehingga melapor ke pihak berwajib.

Kapolres juga membenarkan bahwa pasangan GR masih bersatus pelajar. Meski tidak ada laporan dari keluarga pihak perempuan atau warga, GR sudah bisa ditetapkan dalam proses penyidikan. Sebab, sudah melanggar UU tentang perlindungan anak.

Pelaku dijerat pasal 82 ayat 1 UU RI No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas pasal UU RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Baca Juga : Wakil Wali Kota Desak Polisi Proses Kasus Siswa Minum Racun

Sumber : Tribun Lampung

3 Pria Ini Bawa Kabur Rp 2 Juta dari Meja Kasir Saat Pura-Pura Beli Minum


LAMPUNG - Kepala Polres Way Kanan Ajun Komisaris Besar Yudy Chandra Erlianto melalui Kapolsek Baradatu Komisaris Amirudin BH Maksum, melakukan gelar perkara kasus pencurian dengan pemberatan (curat), Kamis (13/4/2017).

3 Pria Ini Bawa Kabur Rp 2 Juta dari Meja Kasir Saat Pura-Pura Beli Minum

Amirudin menerangkan, Tim Satgas Anti C3 Polsek Padaratu menangkap pelaku curat berinisial ARM (21), pada Rabu (12/4/2017). Penangkapan berdasarkan laporan korban bernama Yoki (27) pada Jumat (7/4/2017).
Baca : Atlet Ini Hamil Setelah Jatuh di Air Yang Tercemar

Pencurian berawal dari tiga orang pelaku yang mendatangi toko kelontong di Kampung Bhakti Negara. Ketiganya berpura-pura membeli minuman. Saat karyawan toko lengah, para pelaku mendekati meja kasir. Mereka mencuri uang sebanyak Rp 2 juta yang disimpan di dalam laci meja.

Sumber : Tribun Lampung

Wednesday, April 12, 2017

Gedor Warung Tuak, Pria Ini Jadi Tersangka Kasus Asusila


SUMATERA UTARA - Pria bernama Indra Lesmana di Sunggal, Sumatera Utara, ditetapkan sebagai tersangka kasus asusila. Pasalnya, pria yang dipanggil Teyen dan tidak punya pekerjaan tetap ini memaksa seorang perempuan untuk berhubungan intim dengannya.

Gedor Warung Tuak, Pria Ini Jadi Tersangka Kasus Asusila

"Saat menenggak tuak, pelaku ini mengajak korbannya berhubungan badan. Namun, korban menolak dengan mengatakan, dirinya bukan wanita murahan," kata Panit Reskrim Polsekta Sunggal, Ipda Martua Manik, Selasa (11/4/2017).
Baca : Mobil Hitam Ini Nyemplung ke Kali Emerald, Gara-Gara HP

Peristiwa itu bermula saat ia menenggak tuak, di sebuah warung di Jalan Medan-Binjai KM 13, Gang Horas, Desa Puji Mulyo, Kecamatan Sunggal, Senin (10/4/2017). Jelang tengah malam, pemilik warung bermaksud menutup warung tuaknya.

Kebetulan, perempuan bernama Fitriani (31) tinggal di warung tempat usahanya itu. Menurut penjelasan Ipda Martua Manik, saat warung sudah tutup, pelaku yang diketahui bernama Indra Lesmana, tiba-tiba menggedor pintu warung, dan menjolok korban menggunakan kayu.

"Saat warung sudah tutup, pelaku ini teriak-teriak menggedor pintu warung. Lalu, ia menjolok kepala korban dengan kayu," kata Manik.

Perbuatan Indra dianggap meresahkan. Sehingga, pemilik warung keluar dan meminta INdra  pergi. Namun nahas, Indra justru mengajak pemilik warung berhubungan intim.

"Akibat perbuatan pelaku, kepala korban luka-luka dijolok kayu. Sekarang, pelaku sudah kami tahan," ungkap Manik.
Baca Juga : Begal Berjimat ini Tersungkur Saat Ditembak Polisi

Sumber : Tribun Lampung

Gadis Ditemukan Setengah Telanjang Saat Dicabuli Tujuh Pria


BOGOR - Seorang gadis remaja di Kota Bogor kembali menjadi korban pencabulan. Gadis yang belum diketahui identitasnya itu telah mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari sekelompok orang.

Gadis Ditemukan Setengah Telanjang Saat Dicabuli Tujuh Pria

Tidak tanggung-tanggung, gadis yang disinyalir berusia sekitar 15 tahun itu diduga telah dicabuli oleh tujuh orang laki-laki secara bergilir. Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Condro Sasongko menuturkan.
Baca : Novel Baswedan di Teror Air Keras Selepas Subuh

Ketika itu korban ditemukan di bantaran Sungai Pakancilan, Kampung Sukajadi, Kelurahan Bondongan, kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor oleh seorang warga setempat.

"Korban ditemukan dalam keadaan tidak sadar memakai kaos warna hitam dalam keadaan tersingkap sampai leher," paparnya.

Lebih jauh Condro menjelaskan, korban sempat dicekoki minuman keras oleh pelaku sebelum dicabuli.

"Korban diajak pergi oleh FH dan HA ke bantaran Sungai Pakancilan, setelah itu korban diberikan minuman keras jenis ciu hingga mabuk dan tidak sadarkan diri," ungkap Condro.

Saat korban sudah tidak sadarkan diri, korban mulai dicabuli oleh empat orang pelaku, setelah itu korban kembali dicabuli oleh tiga pelaku lainnya.

"Korban terlebih dahulu dicabuli oleh FH, RN, AR, FS, warga Sukajadi, Bogor Selatan, kemudian korban kembali dicabuli oleh AM, HA, dan AP," jelasnya

Hingga saat ini, korban masih dirawat di RS Bhayangkara dan belum diketahui identitas serta alamat korban.

"Sementara tujuh pelaku masih dalam proses pemeriksaan, begitu pun dengan saksi-saksi masih kami mintai keterangan," pungkasnya.
Baca Juga : Netizen Penasaran Dengan Kisah Pemuda Tak Tahu Pacarnya Waria

Sumber : Tribun Lampung

Novel Baswedan di Teror Air Keras Selepas Subuh


JAKARTA - Selasa subuh, 11 April 2017, seperti biasanya Novel Baswedan menunaikan salat subuh berjamaah di Masjid Al Ihsan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.

Novel Baswedan di  Teror Air Keras Selepas Subuh

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini diketahui memang selalu melaksanakan ibadah salat subuh di masjid ini. Bahkan, ketika namanya mulai heboh diberitakan, seperti pada kasus dugaan penganiayaan pelaku pencurian sarang burung walet yang menyeret namanya, Novel tetap melakukan salat subuh berjamaah.
Baca : Paman Sering Nonton Tv di Rumahnya, Bocah Ini Hamil

Namun, usai melaksanakan salat subuh pagi itu, teror tiba-tiba datang. Novel yang tengah berjalan kaki menuju rumahnya diserang sosok tak dikenal. Dua orang yang diduga pria, dengan menumpang sebuah sepeda motor, langsung mendekat dan menyiram cairan ke wajah Novel.

Cairan yang belakangan diketahui adalah air keras tersebut langsung membuat Novel kesakitan. Pandangan kabur. Sementara pelaku langsung melarikan diri meninggalkan Novel yang kesakitan dan berusaha berteriak minta tolong.

Teriakan Novel pun didengar oleh jemaah yang masih berzikir di masjid.

"Kejadian usai salat subuh kita zikir, tapi Pak Novel pulang sebelum zikir berakhir," kata Ketua RT 03 RW 10 Pegangsaan II, Kelapa Gading Wisnu Broto, Selasa (11/4/2017).

Menurut dia, jemaah sadar ada yang tidak beres ketika mendengar teriakan Novel.

"Tiba-tiba kita di masjid dengar orang kesakitan, 'Tolong... tolong... Aduh panas!' Jemaah kita saling pandang, ada yang teriak, ternyata Pak Novel, lalu satu masjid keluar semua," ujar Wisnu.

Polisi berjaga di tempat Penyidik KPK Novel Baswedan diserang oleh orang tak dikenal, Jakarta, Selasa (11/4). Setelah insiden penyerangan tersebut, Kapolri perintahkan Rumah Novel Baswedan dijaga. Dia melihat Novel Baswedan lari ke arah keran air wudu. Tapi, lanjut dia, Novel sempat menabrak pohon. Akibatnya, dahinya benjol.

"Pak Novel mengucurkan air wudu ke muka semua. Lalu saya bersama jamaah bawa ke masjid," ucap Wisnu.

Warga yang kemudian menyisir lokasi kejadian menemukan jejak-jejak pelaku saat melancarkan kejahatannya.

"Di TKP saya lihat-lihat sendal Pak Novel dan cangkir yang diduga buat siram air keras," ujar Wisnu.
Baca Juga : Hadiri Undangan Pernikahan Mantan Kekasih, di Pintu Masuk Malah Ada Tulisan Seperti Ini

Selain itu, terlihat bercak air keras yang disiramkan ke wajah Novel Baswedan masih membekas jelas di tempat kejadian. Bercak tersebut sampai membuat warna aspal memutih di lokasi kejadian yang hanya berjarak dua rumah dari kediaman Novel Baswedan.

Sementara, polisi yang tak lama kemudian tiba di lokasi kejadian juga langsung memeriksa sejumlah saksi dan menelusuri lokasi kejadian.

"Dari keterangan korban dan saksi, tersangka diduga ada dua orang dengan menggunakan motor matic jenis bebek," ujar Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Dwiyono di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Namun, ciri-ciri para pelaku belum diketahui persis lantaran keduanya langsung melarikan diri usai menyiram air keras ke Novel.

"Usai melakukan, tersangka langsung melarikan diri menggunakan motor yang dipakai," ujar dia.

Kabar tentang teror yang menimpa Novel Baswedan dengan cepat menyebar. Tak kurang dari Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan yang langsung mendatangi RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, tempat Novel dirawat.

Berdasarkan hasil pembicaraan dengan penyidik kasus e-KTP ini, Iriawan mengatakan Novel sempat curiga ada seseorang yang mengikuti dia dalam beberapa hari sebelum kasus penyiraman air keras ini.

"Nah, dia sadar dan beberapa hari memang ada kecurigaan, tapi beliau katakan ya sudah tidak masalah (tanpa pengawalan)," jelas Iriawan.

Oleh karena itu, Iriawan menambahkan, pihaknya terus mendalami saksi-saksi untuk mempercepat meringkus pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan.

"Kami turut melakukan pendalaman dari saksi yang ada, termasuk yang tadi pagi, marbut masjid, kemudian tetangga beliau. Mudah-mudahan ya, bisa terungkap secepatnya," tutup Iriawan.

Keterangan yang disampaikan Iriawan sama dengan apa yang diceritakan adik Novel, Taufik Baswedan.

Kepada sang adik, Novel mengaku ada yang membuntutinya sebulan belakangan ini. Namun saat itu Novel mengaku tidak ambil pusing soal pria misterius yang memperhatikan gerak-geriknya. Lantaran ia mengaku sadar atas profesinya sebagai penyidik KPK memiliki risiko.

"Udah sebulan ini, Novel cerita ya kalau ada yang mengikuti. Ada kadang seorang, kadang dua orang naik motor," kata Taufik Baswedan.

Ia melanjutkan, Novel pun berusaha kembali memperhatikan orang yang diduga membuntuti dirinya itu. Namun, seringkali orang tersebut selalu menghindar dan langsung pergi.

"Dia langsung pergi kalau diperhatikan balik sama Novel," kata dia.

Tak hanya di jalan, Novel juga mengungkapkan, pria misterius itu seringkali berada di kawasan Masjid Al Ikhsan di dekat kediamannya.
Baca : Tukang Cincau Ini Dibayar Dengan Uang Mainan

"Novel beberapa hari belakangan ini juga sudah memperhatikan ada orang nongkrong di masjid tapi tidak ikut salat, padahal sudah masuk waktu salat. Pas azan subuh kata Novel Baswedan biasanya," tutur dia.

Sementara itu, Novel sendiri mengaku kesulitan melihat akibat luka bakar di wajahnya. Hal itu disampaikan Juru Bicara Presiden Johan Budi, usai menjenguk Novel di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

"Tadi saya sempat lihat dan berbincang dengan Novel. Jadi sebelah kanan wajahnya luka-luka agak lebam gitu. Kedua matanya kena tapi belum pemeriksaan mendalam. Dia mengaku pandangannya agak kabur di mata sebelah kiri. Lagi diperiksa oleh dokter," tutur Johan.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengecam keras aksi penyiraman air keras yang ditujukan pada Novel Baswedan. Presiden menyebut tindakan penyerangan ini sangat brutal.

"Ya itu tindakan yang brutal," ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Jokowi ingin kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan segera diungkap. Sebab, mantan Gubernur DKI Jakarta itu tak mau kejadian serupa menimpa penyidik lainnya.

"Saya kira hal itu tidak boleh terulang," tandas Jokowi.

Namun demikian, Jokowi meminta para penyidik KPK tidak patah arang dalam mengusut kasus korupsi.

"Tetap semangat bekerja," kata Jokowi.

Jokowi juga tetap meminta para penyidik KPK untuk tetap waspada. Sebab, kata dia, kewaspadaan juga tak kalah penting dalam menjalankan tugas.

"Semua penyidik harus waspada," ujar dia.

Tanggapan keras juga datang dari mantan Ketua KPK Abraham Samad yang datang menjenguk Novel Baswedan. Abraham menilai penyiraman Novel dengan air keras itu merupakan tindakan biadab demi membungkam penyidik kasus e-KTP tersebut.

"Ini adalah cara yang biadab. Cara yang ingin membungkam orang yang ingin menegakkan kebenaran. Cara-cara yang ingin membungkam orang yang ingin berantas korupsi di Indonesia," tutur Abraham Samad di Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga, Jakarta Utara.

Bagi Samad, tindakan itu tidak jauh beda dengan upaya kriminalisasi. Dia berharap pemerintah dapat tanggap menyelesaikan persoalan yang menimpa Novel Baswedan tersebut.

"Saya minta negara dan seluruh aparat harus bisa lindungi segenap warga negara yang bisa sedang memperjuangan negara. Tidak boleh lepas tangan begitu saja karena teman-teman kita seperti Novel dan lainnya, sedang melakukan tugas yang diemban oleh negara," jelas dia.

"Negara pasti punya konsep terhadap warga yang sedang memperjuangan negaranya sendiri," pungkas Abraham Samad.

Sementara itu, mantan Pimpinan KPK Bambang Widjojanto mendatangi gedung KPK sebagai betuk dukungan atas kejadian yang menimpa salah satu penyidiknya.

"Kehadiran saya ke sini bagian apresiasi dan dukungan. Kita adalah Novel Baswedan. Saya, kita, kamu, kalian adalah Novel Baswedan. Tugas kita adalah melawan segala bentuk teror dari para teroris yang merupakan koruptor dan ini adalah serangan balik yang luar biasa," ujar Bambang.

Kejadian yang menimpa Novel Baswedan, ia menjelaskan, merupakan salah satu bentuk terrorizing dan pelakunya adalah teroris. Sebab, tindakan yang dilakukan pelaku telah di luar batas.

"Kejadian seperti ini harus dituntaskan. Kalau tidak pernah berhasil dituntaskan maka tidak pernah berakhir. Ini akan terus menerus terjadi. Kalau tidak segera dituntaskan itu artinya upaya pemberantasan korupsi tengah ditikam ulu hatinya," ujar Bambang.

Tindakan seperti ini, menurut dia telah mempersoalkan keinginan Presiden Jokowi dalam mewujudkan program Nawacita. Untuk itu, dia meminya agar negara juga memberikan jaminan keamanan kepada pihak-pihak yang sedang menjalankan tugas serius, seperti Novel Baswedan yang merupakan penyidik otentik KPK.
Baca Juga : Begitu Romantis, Korban Bom Boston Ini Akan Nikahi PMK Penyelamatnya

"Ini suatu kejahatan yang langsung mempersoalkan keinginan pak Jokowi mewujudkan Nawacita. Salah satunya adalah bahwa negara tidak ingin absen. Ini dapat dijadikan gagal dalam memberikan jaminan securitas kepada pihak-pihak yang sedang menjalankan tugas," tegas Bambang.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersuara keras atas teror yang diarahkan kepada Novel Baswedan. Presiden mengutuk keras aksi penyiraman air keras itu dan menilai tindakan ini merupakan murni kriminal.

Setelah mendengar kabar itu, Jokowi langsung memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengusut tuntas kasus ini dn menangkap pelakunya.

"Saya perintahkan kepada Kapolri untuk dicari siapa (pelakunya)," tegas Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Jokowi tidak mau berkomentar banyak soal kasus ini. Dia juga tidak mau berandai-andai peristiwa ini merupakan bagian dari pelemahan KPK.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai, penyiraman air keras kepada Novel murni aksi kriminal. Karena itu, Polri harus segera menuntaskan kasus ini.

"Ini kriminal. Ini tugas Kapolri untuk mencari (pelakunya)," ujar dia.

Jokowi menyatakan, orang seperti Novel tidak boleh mendapat perlakuan tak beradab seperti ini.

"Jangan sampai orang-orang yang punya prinsip teguh seperti itu dilukai dengan cara-cara yang tak beradab," ujar Jokowi.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian langsung menindak lanjuti perintah itu. Dia membentuk tim khusus untuk mengusut kasus penyerangan Novel Baswedan. Satgas itu diharapkan dapat menangkap pelaku dan menguak motif di balik tindakan brutal itu.

"Kita sudah bentuk tim khusus gabungan dari Polres, Polda, dan Mabes, berusaha maksimal untuk ungkap," tutur Tito usai menjenguk Novel di Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga, Jakarta Utara.

Adapun untuk pengamanan para penyidik KPK yang lainnya, Tito mengaku masih membicaraknnya dengan pihak yang bersangkutan. Jika memang diminta, Polri tidak segan untuk membantu.

"Akan koordinasi dengan ketua KPK. Memang sebaiknya dikawal, tapi semua saya serahkan kepada ketua KPK. Kalau ketua KPK meminta pengawalan, kita akan lakukan semua. Saya serahkan dan saya hanya tawaran," jelas dia.

Teror terhadap Novel juga mengundang reaksi dari seluruh pegawai KPK yang tergabung dalam Wadah Pegawai KPK. Ketua I Wadah Pegawai KPK Hery Nurudin menyampaikan rasa duka para pegawai KPK atas tindak kekerasan yang diterima Ketua Wadah Pegawai KPK itu.

Hery menyebut tindakan ini merupakan upaya pelemahan KPK dalam memberantas korupsi di Tanah Air. Puluhan aktivis gerakan anti korupsi menggelar aksi di gedung KPK, Jakarta (11/4). Mereka menggelar aksi sambil membawa poster Novel Baswedan dan mengutuk pelaku penyerangan terhadap novel.

"Kami mengutuk keras perbuatan biadab tersebut sebagai bentuk dari teror dan bagian dari upaya pelemahan KPK dan perlawanan balik terhadap pemberantasan korupsi," ujar Hery dalam keterangan resmi Wadah Pegawai KPK.
Baca Juga : Wanita Cantik Ini Mengaku Bawa Bom di Bandara I Gusti Ngurah Rai

Dia mengatakan, tindak teror ini bukanlah yang pertama dialami Novel Baswedan. Para penyidik dalam kasus e-KTP itu pernah mengalami sejumlah teror.

"Peristiwa ini bukanlah peristiwa pertama kali kepada Novel Baswedan, melainkan peristiwa berulang yang pernah dilakukan terhadap Beliau, mulai dari intimidasi, tabrak lari sampai dengan peristiwa hari ini, penyiraman air keras," papar dia.

Meski begitu, Hery menegaskan tindak kekerasan yang dialami Novel Baswedan ini tidak akan membuat para pegawai KPK lain takut dalam menjalankan tugas.

"Kami tegaskan bahwa selangkah pun kami tidak akan mundur, apa pun risikonya, karena kami yakin perjuangan pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti dengan ancaman, intimidasi, maupun serangan apapun juga," tegas Hery.

"Novel adalah kami dan kami adalah KPK yang tidak akan pernah berhenti untuk berjuang melawan korupsi. Kami Novel dan Kami Tidak Takut," tegas dia.
Baca Juga : Pria Ini Dapat Umrah Gratis Dari Ketua MPR

 Sumber : Liputan6

Nenek Ini Ditangkap Polisi Gara-Gara Dititipi Sabu-Sabu 10 Gram


MEDAN - Nenek Semi (65), warga Jalan Pancing Pasar IV, Gang Cilik, Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Medan Deli, sudah berulang kali membantah berjualan sabu-sabu.

Nenek Ini Ditangkap Polisi Gara-Gara Dititipi Sabu-Sabu 10 Gram

Namun, Nek Semi, begitu dia disapa, tetap diamankan personel Satuan Narkoba Polres Pelabuhan Belawan karena di rumahnya ditemukan barang bukti sabu-sabu seberat 10 gram.
Baca : Paman Sering Nonton Tv di Rumahnya, Bocah Ini Hamil

Nek Semi mengaku, barang haram itu bukan miliknya dan tidak pernah menjual kepada orang lain. Dia menjelaskan, sabu-sabu itu milik seorang lelaki bernama Ade.

"Itu bukan milik saya. Sabu-sabu itu milik orang lain, bernama Ade. Saya tidak ada menjual," kata Nek Semi yang telah memiliki dua cucu kepada petugas di Polres Pelabuhan Belawan.

Nek Semi hanya mengakui, barang haram itu dititipkan kepadanya oleh Ade. Dia sudah dititipi sabu-sabu sebanyak empat kali oleh Ade. Namun, Nek Semi tidak tahu Ade tinggal di mana karena selama ini Ade yang selalu datang ke rumahnya.

"Sudah dua bulan ini sabu-sabunya diantar empat kali. Tiap diantar, saya dikasih uang Rp50.000. Uang itulah untuk kebutuhan sehari-sehari," aku janda tiga anak itu.

Namun, petugas Satuan Narkoba Polres Pelabuhan Belawan punya analisa berbeda. Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Belawan, AKP Dedi Kurniawan mengatakan, hasil penyelidikan petugas, Nek Semi sudah enam bulan melakoni bisnis haram tersebut.

“Barang bukti sabu-sabu 10 gram kami temukan disembunyikan di gorden," ungkapnya.

Dedi menambahkan, Nek Semi sudah berulang kali diingatkan oleh Kepala Lingkungan dan Babinkamtibmas agar menghentikan bisnis haramnya tersebut. Namun, peringatan tersebut tak pernah digubrisnya.
Baca Juga : Satu Keluarga Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Dalam Rumah

Akhirnya, kata Dedi, Nek Semi ditetapkan sebagai tersangka pengedar sabu-sabu. Apalagi di lingkungan tempat tinggalnya, Nek Semi dikenal sebagai Ratu Paket Hemat.

“Paket sabu-sabu Rp50.000, oleh Nek Semi diciutkan dan dijual dengan harga Rp30.000,” katanya.

Bahkan, Nek Semi menyediakan rumahnya sebagai tempat untuk mengonsumsi sabu-sabu. Polisi pun menjerat Nek Semi dengan Pasal 114 Jo 112 tentang narkotika.

"Tersangka terancam dengan hukuman lebih dari lima tahun," pungkas Dedi.
Baca Juga : Seorang Wanita Melahirkan di Pesawat Dengan Bantuan Pramugari

Sumber : Sindonews.com

Paman Sering Nonton Tv di Rumahnya, Bocah Ini Hamil


LAMPUNG - Seorang pria berinisial DS di Way Kanan menjadi tersangka pencabulan. Korban tak lain keponakannya sendiri, sebut saja Melati, yang berusia 15 tahun.

Paman Sering Nonton Tv di Rumahnya, Bocah Ini Hamil

Terungkapnya kasus ini setelah korban bersama orangtuanya melapor ke Polres Way Kanan. Sehari kemudian, Selasa (4/4), polisi menangkap DS di rumahnya di Kecamatan Buay Bahuga.
Baca : Begal Berjimat ini Tersungkur Saat Ditembak Polisi

"Korban bersama orangtuanya melapor ke Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Way Kanan. Anggota sudah menahan tersangka," ujar Kasat Reskrim Ajun Komisaris Sugandhi Satria Nugraha mewakili Kapolres Way Kanan Ajun Komisaris Besar Yudy Chandra Erlianto melalui ponsel.

Sugandhi mengungkapkan, tersangka mencabuli korban sebanyak tiga kali. Peristiwa pertama terjadi di rumah korban.

"Tersangka awalnya sering berkunjung ke rumah korban untuk menumpang nonton televisi," katanya.

Suatu hari pada Juli 2015 itu, DS datang ke rumah sekitar pukul 16.00 WIB. Ia sempat menanyakan keberadaan orangtua korban.

Sugandhi menjelaskan, korban saat itu menjawab bahwa orangtuanya sedang pergi ke sawah. Tanpa rasa curiga, korban membiarkan DS masuk. Seperti biasa, DS kemudian menonton tv.

"Sementara korban tertidur karena mengantuk. Saat itulah timbul niat tersangka untuk berbuat cabul," ujar Sugandhi.

Beberapa saat kemudian, Sugandhi menuturkan, korban terbangun dan kaget melihat sang paman membuka celananya. Setelah berbuat cabul, DS pergi.
Baca Juga : Indonesia Rebut Satu Medali Perunggu di Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2017

"Tersangka sempat mengancam korban supaya tidak bercerita kepada siapapun," katanya.

DS kembali melakukan aksinya pada pertengahan tahun 2016. Awalnya, tersangka datang ke rumah korban sekitar pukul 15.00 WIB untuk meminjam golok karena ingin mencari buah kelapa.

Setelah selesai mencari buah kelapa, DS mengembalikan golok tersebut. Saat itulah tersangka kembali berbuat cabul.

"Korban mencoba mendorong tersangka untuk lari. Tapi, korban tidak kuat karena tubuh tersangka lebih besar dari tubuh korban," jelas Sugandhi.

"Tersangka mengancam jangan bilang kepada siapapun. 'Awas kamu nanti'," ujar Sugandhi mengutip pengakuan korban.

Terakhir, DS mencabuli Melati pada 6 Juli 2016 sekitar pukul 21.30 WIB. Lokasinya di sawah dekat tanggul kampung. Sugandhi mengungkapkan, korban awalnya konvoi malam takbiran bersama temannya.

"Tersangka menyusul korban untuk pulang. Tapi bukannya pulang ke rumah, tersangka malah mengajak korban ke sawah dan mencabuli korban," kata Sugandhi.

Kasus ini terbongkar saat Melati terbangun dan merasakan sakit pada bagian perut. Ia kemudian membangunkan kedua orangtuanya. Kasat Reskrim Ajun Komisaris Sugandhi Satria Nugraha menjelaskan, orangtua korban lalu memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Melati.

"Dari keterangan dokter, korban sudah hampir melahirkan. Di situ terungkap bahwa Melati jadi korban pencabulan. Korban selama ini takut bercerita karena berada di bawah ancaman tersangka," paparnya.

Tidak terima dengan kejadian itu, orangtua Melati melapor kepada polisi. Korban pun akhirnya memberanikan diri melaporkan peristiwa tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Way Kanan. Sehari setelah menerima laporan, polisi menangkap DS di rumahnya. "DS sekarang mendekam di sel polres.
Baca Juga : 6 Pria Dihukum Atas Dakwaan Homoseksual

Dia terjerat pasal 81 ayat 1 dan 2, dan atau pasal 82 Undang- undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara," tandas Sugandhi. (ang)

Sumber : Tribun lampung